Home / Ekonomi / Keuangan / Kredit Tumbuh 9%, Ekonomi Indonesia Sulit Tembus 5,3%

Kredit Tumbuh 9%, Ekonomi Indonesia Sulit Tembus 5,3%

Ekonom Indef Eko Listyanto menilai perlambatan pertumbuhan kredit yang disalurkan pada Mei 2017 didorong oleh berkurangnya permintaan akibat daya beli masyarakat yang masih tertekan.

Sekitar 60% kredit di bank berasal dari dunia usaha. Seiring masih lesunya penjualan maka penarikan/permintaan kredit oleh dunia usaha ke perbankan juga ikut melambat.

“Sepertinya tidak akan on the track seperti target BI, kemungkinan kredit masih tumbuh di tingkat single digit, sekitar 9%,” kata dia saat dihubungi di Jakarta.

Hal ini dikarenakan, daya beli yang melemah akan membuat pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) turun, implikasinya laju kredit ikut turun. “Kalau bisa sekitar 9% (batas bawah target OJK) sudah cukup bagus, tapi jika hanya 9% maka tidak cukup untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 5,3%,” katanya.

Sementara, Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman Hadad menilai, meskipun pertumbuhan kredit lebih lambat dibandingkan April 2017, OJK melihat pertumbuhan kredit hingga Mei 2017 masih sejalan dengan Rencana Bisnis Bank (RBB) yang menargetkan pertumbuhan kredit tahun ini di 9%-12% (yoy).

“Secara umum, pertumbuhan kredit on the track. Artinya beberapa target pertumbuhan on track tercapai,” ujar Muliaman.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) mencatat, kredit yang disalurkan pada Mei 2017 menjadi Rp4.453 triliun atau naik 8,6%, lebih rendah dibanding bulan sebelumnya yang tumbuh 9,4%.

Berdasarkan jenis penggunaan, perlambatan pertumbuhan kredit perbankan terjadi pada Kredit Modal Kerja (KMK) dan Kredit Investasi (KI).

“Kredit modal kerja tercatat sebesar Rp2.050 triliun atau naik 8,5% lebih rendah dibanding bulan sebelumnya yang tumbuh 10%,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara.
Sementara, kredit investasi mengalami perlambatan pertumbuhan dari 8% pada April 2017 menjadi 7,9%.

About Trend Indonesia

Trend Indonesia